The Experience Machine
kenapa manusia sering menolak kebahagiaan sempurna jika itu palsu
Pernahkah kita berharap punya semacam remote control ajaib untuk mengatur jalannya kehidupan? Tekan satu tombol, dan semua masalah seketika menguap. Tidak ada lagi patah hati, tagihan yang menumpuk, atau overthinking di jam tiga pagi. Sebagai gantinya, kita hanya merasakan kebahagiaan absolut. Liburan tanpa henti, memenangkan penghargaan bergengsi, atau sekadar makan enak setiap hari tanpa takut kolesterol naik. Secara biologis, otak manusia memang didesain secara evolusioner untuk menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan. Tapi, mari kita berandai-andai sejenak dan menguji insting dasar ini. Jika besok pagi ada seseorang yang menawarkan tiket satu arah ke sebuah surga buatan yang seratus persen sempurna, apakah kita akan benar-benar mengambilnya?
Di tahun 1974, seorang filsuf bernama Robert Nozick merancang sebuah eksperimen pikiran yang kini sangat terkenal. Ia menyebutnya The Experience Machine atau Mesin Pengalaman. Mari bayangkan mesin ini dirancang oleh sekumpulan ilmuwan saraf paling jenius yang pernah ada. Saat kita masuk ke dalamnya, serangkaian elektroda akan dipasang ke otak kita. Mesin ini mampu menyimulasikan pengalaman apa pun dengan sangat sempurna, dan yang paling penting: kita tidak akan ingat bahwa kita sedang berada di dalam mesin. Otak kita akan dibanjiri dopamin, serotonin, dan oksitosin—koktail kimiawi yang membuat kita merasa sukses, dicintai, dan bahagia tanpa celah. Secara neurobiologis, kebahagiaan palsu dari mesin ini dan kebahagiaan asli di dunia nyata sama sekali tidak bisa dibedakan. Keduanya memicu sinyal saraf yang identik di kepala kita. Logikanya, kalau tujuan hidup kita selama ini murni hanya untuk "mencari bahagia", kita semua pasti akan antre panjang untuk masuk ke mesin ini, bukan?
Namun, inilah bagian yang sering membuat para psikolog dan ilmuwan garuk-garuk kepala. Selama puluhan tahun eksperimen pikiran ini diajukan ke berbagai kelompok orang, mayoritas secara konsisten menolak masuk ke dalam mesin tersebut. Aneh sekali, bukan? Di satu sisi, sains pernah membuktikan betapa berbahayanya godaan kesenangan murni. Dalam sebuah eksperimen klasik di tahun 1950-an, tikus-tikus laboratorium diberi tuas yang jika ditekan akan langsung merangsang pusat kesenangan di otak mereka. Hasilnya? Tikus-tikus itu menekan tuas tersebut tanpa henti, menolak makan dan minum, hingga akhirnya mati kelelahan demi sensasi kebahagiaan artifisial. Lalu, kenapa kita—manusia yang memiliki sistem penghargaan otak yang secara struktur mirip dengan mamalia lain—justru ragu? Mengapa kita menolak kebahagiaan sempurna yang dijamin aman? Apa yang sebenarnya diam-diam dicari oleh otak kita, kalau ternyata itu bukan sekadar rasa bahagia?
Jawabannya ternyata bersembunyi pada kompleksitas arsitektur pikiran kita sendiri. Sains modern dan psikologi eksistensial menemukan bahwa manusia tidak hanya digerakkan oleh kesenangan (pleasure), tetapi yang lebih dominan adalah dorongan mencari makna (meaning). Kita menolak Mesin Pengalaman karena kita tidak hanya ingin merasa melakukan sesuatu, kita ingin benar-benar melakukannya. Kita tidak sekadar ingin merasa menjadi orang yang hebat, kita sungguh-sungguh ingin menjadi sosok tersebut di dunia yang nyata. Ada sebuah fenomena psikologis yang disebut effort paradox. Otak manusia ternyata diam-diam menghargai rasa sakit, friksi, dan perjuangan. Sinyal kepuasan yang kita dapatkan setelah bersusah payah berlatih maraton berbulan-bulan, atau setelah berhasil memperbaiki hubungan yang nyaris hancur, memiliki kualitas psikologis yang jauh lebih dalam dan bertahan lama. Tanpa sadar, rasionalitas kita tahu bahwa kebahagiaan tanpa risiko penderitaan adalah sebuah ilusi yang kosong. Kita menolak mesin itu karena kita sangat menghargai keaslian, betapa pun berantakan dan menyakitkannya realitas tersebut.
Menyadari hal ini seolah memberikan kita kacamata baru untuk melihat penderitaan dan rintangan sehari-hari. Tentu saja, merasa lelah, gagal, cemas, dan kecewa itu sama sekali tidak enak. Saya dan teman-teman pasti sering merasa ingin menyerah saat beban hidup sedang berat-beratnya. Tapi, mungkin justru di situlah letak keindahan menjadi manusia yang utuh. Fakta bahwa kita masih bisa merasakan sedih, marah, dan takut adalah bukti valid bahwa kita sedang hidup di dunia yang sesungguhnya, bukan di dalam sebuah simulasi yang dimanipulasi. Kita secara sadar memilih kenyataan, lengkap dengan segala luka dan ketidaksempurnaannya, karena hanya dari benturan-benturan itulah identitas dan makna hidup kita dibentuk. Jadi, saat kita merasa dunia sedang tidak berpihak pada kita hari ini, tarik napas dalam-dalam. Mari hargai rasa sakit itu sesaat. Setidaknya, rasa sakit itu asli, dan itu berarti kebahagiaan yang sedang kita perjuangkan mati-matian saat ini, kelak akan murni menjadi milik kita sendiri.